Jangan tolak niat baikku: pentingnya sense of belonging

"Aduh nggak usah repot-repot, aku ke sini cuma niat silaturahmi."

"Eh, kok kamu yang traktir? Nggak usah, aku bayar sendiri aja."

"Lho kok malah bonus, bentar aku tukar uang dulu biar bayarnya pas."

Sebagai anak yang lahir di Jawa, kalimat seperti di atas sering sekali aku dengar, udah kayak makanan sehari-hari dan terdengar wajar. Intinya sungkan atau menolak pemberian seseorang karena nggak enak takutnya ngerepotin orang yang ngasih. Sekilas memang terdengar rendah hati dan baik. Tapi, sebagai orang yang ditolak niat baiknya, apakah selalu terkesan begitu?

Aku pernah menginap di kosan temanku di Jogja karena lagi ikut konferensi jurnal di salah satu kampus di sana. Aku menginap di sana nggak gratis karena emang peraturan dari ibu kosnya. Tapi juga nggak bisa dipungkiri aku sering minta antar ke sana kemari sama temanku ini karena lebih hemat ketimbang naik ojol. Tentu dengan niat, aku bakal traktir dia makan atau beliin dia jajan di jalan. Tapi entah kenapa rasanya sulit banget nraktir ini anak. Dia selalu menolak kalau mau aku traktir, sampai-sampai aku mikir, "Apa aku yang nggak pinter ngajak orang traktiran ya?" "Apa harus dibujuk segala macem dulu?" Soalnya aku terbiasa ngomong to the point ke siapapun, susah buat basa-basi.

Sejak hari itu aku sadar kalo ditolak niat baiknya itu nggak enak banget. Padahal selama ini aku sendiri sering banget kayak gitu tanpa sadar. Mungkin karena bawaan budaya juga kali ya.

Jadinya sampe hampir seminggu aku nginap di sana, kalo diingat-ingat aku cuma traktir dia serabi dan bakpia kering, padahal udah dianter ke mana-mana muter-muter Jogja. Haduh, asli pas perjalanan pulang di kereta ngerasa nggak enak banget udah ngerepotin dia dan nggak bisa ngasih apa-apa. Berkali-kali aku nyoba traktir dia, selalu ditolak, dan aku nggak bisa maksa. Padahal aku emang ngelebihin bujet buat hal-hal semacam itu. Sejak hari itu aku sadar kalo ditolak niat baiknya itu nggak enak banget. Padahal selama ini aku sendiri sering banget nolak kebaikan orang kayak gitu tanpa sadar. Mungkin karena bawaan budaya juga kali ya hahaha.

Aku nggak sengaja nonton TED Talk yang diisi oleh Emily Esfahani Smith, dan mengenal apa itu sense of belonging. Intinya sense of belonging itu making someone becomes part of the community or part of the society. Lawannya adalah membuat seseorang merasa unworthy atau invisible. Selengkapnya bisa cek di video ini.



Kenapa menolak kebaikan sama dengan nggak menerapkan sense of belonging? Bayangkan seandainya anggota keluargamu misalnya kakak atau adikmu mau traktir kamu makan atau nawarin barang kesukaanmu, apa iya kamu bakal sungkan-sungkan? Justru kamu bakal senang atau mungkin malah bangga misal adikmu udah bisa beliin sesuatu buat kamu pakai uang dia sendiri kan? Malah aneh kalo kamu sungkan atau menolak, itu bisa menyakiti hati mereka karena merasa diperlakukan seperti orang lain. Akan lebih baik kalau kamu memang sungkan, terima saja dulu lalu balas kebaikannya di kemudian hari.

Komentar